KARAKTERMUTIARABUNDA.SCH.ID | Sekilas merenungi terhadap fenomena yang terjadi di dunia maya maupun di media sosial akhir-akhir ini, mulai dari pergaulan bebas, berkata-kata yang tidak bijak, saling membully antar-teman, ghibah (membicarakan keburukan orang lain di belakang), judi online di kalangan pelajar, bahkan sampai mempermainkan agama (na’udzubillahi min dzalik). Mengamati terhadap fenomena yang terjadi, sebagai seorang muslim yang sejati tentunya merasa sangat prihatin dan ingin mencari solusi terkait fenomena tersebut.
Sebelum berbicara terkait dengan solusi terhadap fenomena diatas, sejenak kita membuka khazanah keilmuan yang ditulis oleh Ulama Nusantara yakni, ‘Alim ‘Allamah Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani Al-Jawi dalam kitabnya yang berjudul, Nashoihul ‘Ibad. Adapun salah satu nasihat yang beliau tulis dalam kitabnya ialah sebagai berikut.
مَنْ تَرَكَ الذُّنُوْبَ رَقَّ قَلْبُهُ وَمَنْ تَرَكَ الْحَرَامَ وَأَكَلَ الْحَلَالَ صَفَتْ فِكْرَتُهُ
Artinya: Barangsiapa yang mau meninggalkan perbuatan dosa, maka hatinya akan menjadi lembut, dan barangsiapa yang meninggalkan perbuatan yang telah diharamkan (oleh Allah) dan memakan makanan yang halal, maka akan menjadi jernih pikirannya.
Ungkapan tersebut mengisyaratkan sekaligus menegaskan kepada kita semua untuk senantiasa berusaha dan mau menjauhi perbuatan dosa, dalam rangka menjadikan pribadi kita orang yang lembut hatinya dan jernih pikirannya.
Jika ingin diungkap realita yang sesungguhnya, maka sejatinya berbuat dosa itu sebenarnya sangat mahal, sebagaimana contoh; mabuk-mabukan itu bayar, main judi itu bayar, sedangkan pahala itu murah, sebagimana contoh; shalat itu gratis, mengaji itu gratis, berkata-kata yang bijak itu gratis dan masih banyak contoh lainnya. Oleh karena itu, orang yang cerdas pasti akan pandai memilih antara dosa atau pahala. Adapun solusi awal untuk menghindari dari perbuatan dosa ialah diantaranya;
- Tidak meremehkan dosa kecil
- Tidak mencari-cari kesalahan orang lain, justru peka terhadap kesalahan sendiri.
- Mencari dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal karena makanan yang halal akan berpengaruh pada situasi kondisi tubuh kita.
- Membiasakan diri untuk bertutur kata yang bijak.
- Dawamul wudhu’ (memperbanyak wudhu’) terutama di saat madhmadhoh atau berkumur-kumur diniatkan agar selalu bertutur kata yang baik.
- Muhasabah atau introspeksi diri, merenungi atas kesalahan yang telah diperbuat dengan memperbanyak
Selanjutnya, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy pernah menuturkan kepada para santrinya yang bis kita amalkan bersama untuk senantiasa menjaga dan menampilkan akhlakul karimah (pesona yang baik). Beliau berpesan, “Akhlakul karimah bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya”. Jadi, dimanapun kita berada sebenarnya harus senantiasa menampilkan akhlakul karimah, dengan kata lain, bermalas-malasan untuk berbuat dosa dan menjadi pribadi yang rajin untuk berbuat kebajikan.
Oleh: Rafiq Anshari











