Istilah “Nobar” atau nonton bareng sudah menjadi agenda rutin yang menyenangkan bagi siswa. Entah itu menonton film dokumenter sejarah, film religi, atau sekadar konten edukatif di kelas. Namun, muncul sebuah gagasan menarik: “NO(BAR) = Tanpa Bar-Bar”. Kalimat ini bukan sekadar permainan kata, melainkan sebuah prinsip bahwa menonton film pun harus dilakukan secara syar’i dan beradab.
Dalam bahasa pergaulan, “bar-bar” sering dikaitkan dengan perilaku yang tidak beraturan, berisik, atau melanggar norma. Maka, NO(BAR) yang tidak bar-bar bagi seorang Muslim berarti menerapkan adab islami dalam menikmati sebuah karya seni. Menonton secara syar’i bukan berarti kaku, melainkan menjaga agar mata, telinga, dan hati kita tetap terjaga dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT.
Berikut adalah aspek-aspek utama mengapa prinsip ini sangat penting untuk diterapkan oleh siswa:
1. Menjaga Adab Terhadap Sesama (Hablum Minannas)
Menonton bareng sering kali memicu kegaduhan. Siswa yang “bar-bar” mungkin akan berteriak-teriak, tertawa berlebihan, atau mengganggu kenyamanan teman di sebelahnya dengan komentar yang tidak perlu. Islam mengajarkan kita untuk tidak mengganggu orang lain (la dharara wala dhirara). Dengan bersikap tenang, kita menunjukkan bahwa kita adalah siswa yang memiliki akhlaqul karimah.
2. Filter Terhadap Konten (Menjaga Pandangan)
Syar’i berarti selektif. Tidak semua film layak ditonton. Film yang mengandung unsur kekerasan berlebihan, pergaulan bebas, atau visual yang memperlihatkan aurat harus dihindari. Sesuai prinsip “Tidak Bar-Bar”, kita harus memiliki “Rem Iman”—yakni kendali diri untuk menundukkan pandangan (ghadhul bashar) atau memilih tayangan yang benar-benar memberikan inspirasi positif bagi jiwa.
3. Pengaturan Tempat dan Interaksi (Menjaga Izzah)
Nobar yang syar’i juga memperhatikan etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Siswa dan siswi sebaiknya dipisahkan tempat duduknya agar tidak terjadi percampuran (ikhtilat) yang tidak perlu di dalam ruangan yang gelap atau remang-remang. Hal ini bertujuan untuk menjaga kehormatan diri masing-masing siswa sesuai tuntunan syariat.
4. Kedisiplinan Waktu dan Shalat (Prioritas Ibadah)
Seringkali saat asyik menonton, kita melupakan kewajiban utama. Nobar yang syar’i adalah yang tetap menempatkan perintah Allah di atas segalanya. Begitu azan berkumandang, pemutaran film harus segera dihentikan (pause). Siswa diajak untuk segera mengambil air wudhu dan shalat berjamaah. Ini adalah bentuk nyata bahwa hiburan tidak boleh melalaikan kita dari zikir kepada Allah.
5. Kebersihan Adalah Sebagian dari Iman
Siswa yang “bar-bar” seringkali meninggalkan sampah makanan atau minuman berserakan di tempat nobar. Menonton secara syar’i berarti bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan. Setelah film usai, ruangan harus kembali bersih sebagai bukti bahwa seorang penonton yang beriman adalah penonton yang peduli pada kebersihan.
6. Mengambil Ibrah (Pelajaran) Setelah Menonton
Nonton bareng syar’i tidak berhenti saat credit scene muncul. Aktivitas ini harus ditutup dengan diskusi singkat atau refleksi: “Pelajaran apa yang bisa diambil untuk meningkatkan keimanan?” Jika menonton tidak menambah ilmu atau tidak membuat kita makin takut kepada Allah, maka kita perlu mengevaluasi niat kita.
Menonton film bisa menjadi sarana belajar yang sangat efektif dan menyenangkan. Namun, kesenangan tersebut akan menjadi sia-sia—bahkan berbuah dosa—jika dilakukan dengan cara yang “bar-bar” atau melanggar aturan agama.
Dengan menerapkan prinsip “NO(BAR) = Tidak Bar-Bar”, kita belajar bahwa hiburan pun bisa menjadi ladang pahala asalkan diniatkan untuk kebaikan, dilakukan dengan cara yang sopan, dan tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah.
Wallahu a’lam bi-sshowab
oleh: R.A Al-Baliyyi











