Enam Belas Tahun Cahaya Mutiara Bunda Bali | Puisi oleh Bunda Sri Utami

Enam Belas Tahun Cahaya Mutiara Bunda Bali
Puisi oleh Bunda Sri Utami

Pagi ini….
Kami menengadah lebih lama dari biasanya,
Menghitung nikmat yang hadir satu per satu
di usia keenam belas.

Ada haru yang sulit dijelaskan,
Ada syukur yang tak mampu diucapkan,
Karena yang berdiri hari ini
bukan sekadar bangunan,
melainkan doa-doa panjang
yang tak pernah berhenti diaminkan.

Dulu, semuanya bermula dari langkah kecil saja.
Dari niat sederhana: ingin berguna.
Menghadirkan tempat bagi pembelajar sejati

untuk mengeja dunia,
menulis harapan, menghitung masa depan,
dan mengenal Tuhannya sejak usia belia.

Tak ada jalan yang seluruhnya rata.
Ada peluh yang jatuh diam-diam,
ada air mata yang di balik senyuman,
ada malam-malam panjang
yang dipenuhi doa dan ikhtiar.
Namun setiap kali lelah datang,
kami melihat mata anak-anak itu berbinar,
dan kami tahu:
perjuangan ini harus diteruskan.

Terima kasih kepada para pelita ilmu

Yang dengan sabar menuntun tangan-tangan kecil

menoreh huruf demi huruf,
hatinya luas menampung riuh bagi jiwa yang bertumbuh.
Terima kasih kepada semua hati mulia
yang merawat tempat ini dengan penuh cinta.

Kalian bukan sekadar bekerja,
kalian penjaga peradaban masa depan.

Terima kasih Ayah-Bunda
yang menitipkan amanah paling berharga,
dan setiap tangan yang setia menopang perjalanan ini.
Tanpa kebersamaan, langkah ini takkan sampai sejauh hari ini.

Bagi Anak Bintang Mutiara Bunda,
Kalianlah alasan kenapa pagi selalu bermakna.
Bermimpilah seluas samudra,
Raih harapan setinggi angkasa
Namun kepasrahan tetap menghunjam bumi

Enam Belas Tahun Mutiara Bunda Bali bercahaya

Sesungguhnya bukan sekadar bertambah angka,
Melainkan doa, jejak perjuangan,

Dan tumbuhnya harapan

Terus mendidik, tak lelah berjuang,
Terus berbakti, untuk masa depan gemilang.

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram