JADILAH PEMALAS !? (Seni Menjadi Pribadi yang Malas Berbuat Keburukan) PART II

KARAKTERMUTIARABUNDA.SCH.ID | Apakah kata “Malas” itu selalu negatif? Dalam pandangan umum, kata “malas” hampir selalu bernilai buruk. Malas belajar, malas bekerja, atau malas beribadah, dan itu semua jelas tidak baik. Namun, bagaimana jika sifat malas itu kita arahkan pada hal-hal yang negatif?. Bayangkan jika kita “malas” untuk bergosip, malas ikut tawuran, malas membuka konten yang merusak hati, atau malas melakukan korupsi dan kecurangan. Bukankah itu justru sikap yang positif? Inilah yang disebut sebagai seni menjadi pribadi yang malas berbuat keburukan.

Islam mengajarkan kita untuk mengatur energi dan fokus pada hal yang bermanfaat. Ada kaidah fikih yang sangat relevan dengan konsep ini:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدِّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Artinya: Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada meraih kemaslahatan.

Adapun maksud dari kaidah diatas ialah jika ada pilihan antara melakukan sesuatu yang tampak menguntungkan tetapi berpotensi merusak, atau “malas” untuk melakukannya, maka sikap malas justru menjadi jalan keselamatan. Bahkan Allah ‘azza wa jalla pun telah memberi peringatan di dalam firman-Nya:

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: (Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu) (QS. Al-Baqarah: 168)

Setan sering menggoda manusia bukan langsung dengan dosa besar, melainkan melalui langkah kecil. Misalnya, “sekali saja malas shalat” atau “sekali ikut ngobrol gibah”. Maka, jika kita malas mengikuti ajakan itu, kita sebenarnya sedang menjaga diri dari keburukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Artinya: Seorang muslim sejati adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits diatas menegaskan, malas berkata buruk, malas menyebarkan hoaks, dan malas berbuat kasar justru menjadi tanda keimanan.

Bagi generasi muda, khususnya Gen-Z, seni menjadi pemalas dalam hal keburukan bisa dipraktikkan dengan hal yang sederhana, misalkan: malas berghibah yang kegiatannya bisa diganti dengan membaca atau menonton konten islami, kemudian malas julid yang diganti dengan menulis caption positif, kemudian malas ikut circle toxic fokus mengembangkan skill dan pertemanan sehat serta malas marah yang diganti dengan diam atau healing yang halal. Sikap “malas berbuat dosa” bukan hanya menjaga diri, tetapi juga membawa aura positif di lingkungan sekitar.

Al-hasil, Tidak semua “malas” itu buruk. Dalam beberapa keadaan, menjadi pemalas adalah strategi menjaga diri dari kerusakan. Kalau malas mengarah pada perbuatan dosa, maka malas tersebut berubah menjadi amal kebaikan. Di era serba cepat dan penuh distraksi, kita butuh menjadi pemalas yang cerdas: malas berbuat keburukan, tetapi rajin menebar kebaikan.

Oleh: R.A Al-Baliyyi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram