KARAKTERMUTIARABUNDA.SCH.ID | Sebagai insan yang beriman, tentunya pada momentum bulan Ramadhan yang mulia ini diisi dengan berbagai macam ibadah yang dapat mendekatkan sang hamba kepada keistimewaan bulan tersebut. Adapun salah satu keistimewaan yang terkandung dalam bulan Ramadhan adalah ganjaran pahala yang besar dalam meraih malam Lailatul Qadr.
Lailatul Qadr berasal dari dua lafadz yaitu, “Laylatun” yang berarti malam, dan “Qadar” yang berarti kemuliaan dan bisa diartikan juga sebagai sempit/kesempitan. Sehingga bila didefinisikan menjadi satu makna, Lailatul Qadr berarti malam yang sempit, sebab pada malam tersebut banyak para malaikat yang turun ke bumi hingga mereka berhimpitan dan berlomba-lomba untuk menemani sang hamba yang sedang bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla. Maka, pantas bilamana malam Lailatul Qadr adalah malam yang disebut-sebut sebagai malam mulia dan lebih baik daripada seribu bulan.
Sebagaimana yang telah tertera dalam QS. Al-Qadr ayat 3, Allah SWT berfirman, “Lailatul Qadri Khairun min Alfi Syahrin” (Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan). Dalam tafsir Juz ‘Amma karya Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan dijelaskan bahwasanya adapun malam Lailatul Qadr yaitu, malam yang lebih dari seribu bulan, yakni amalan shalih yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Pada malam itu adalah lebih baik kedudukanya dibandingkan amalan selama seribu bulan, inilah yang menjadikan malam ini adalah malam yang mulia, kedudukan yang sangat agung, malam ini akan menghampiri kehidupan manusia di setiap tahunnya, jika Allah berkehendak kepada siapapun untuk meraihnya, niscaya dia akan meraih segala kebaikan, itulah sebabnya malam ini disebut malam yang mulia, malam yang diberkahi.
Selanjutnya, ada dua pertanyaan besar yang menjadi serba-serbi dalam persoalan malam Lailatul Qadr. Pertanyaan pertama yaitu, “Kapan terjadinya malam Lailatul Qadr?”. Kedua, “Bagaimana cara mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qadr”. Menjawab dari pertanyaan yang pertama bahwasanya secara umum, Lailatul Qadr ini akan muncul pada sepuluh malam terakhir atau di penghujung di bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat yang dating dari Sayyidah Aisyah ra., Baginda Nabi SAW bersabda.
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ
Artinya: Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari)
Sedangkan menurut teori dari Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali bahwasanya, jika puasa Ramadhan dimulai hari Ahad atau Rabu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-29. Jika dimulai hari Senin maka jatuh pada malam ke-21. Jika dimulai hari Selasa atau Jumat maka jatuh pada malam ke-27. Jika dimulai hari Kamis maka jatuh pada malam ke-25. Jika dimulai hari Sabtu maka jatuh pada malam ke-23.
Menjawab pertanyaan kedua bahwasanya adapun cara meraih keistimewaan malam Lailatul Qadr adalah dengan bermunajat yang dilandasi dengan cinta, mulai dari shalat isya’ dan tarawih berjamaah, melantunkan ayat suci al-Qur’an, I’tikaf dan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat mahdhoh. Sedangkan menurut wakil Rais ‘Aam PBNU yakni, KH. Afifuddin Muhajir menganjurkan kepada kita untuk mencari keistimewaan malam Lailatul Qadr bukan hanya di mihrab atau tiang-tiang masjid melainkan bias juga dengan memberikan makan orang yang sedang lapar, menyelamatkan seseorang dari tidak tertutupnya aurat, mencari ridha orang tua serta menampilkan akhlakul karimah.
Penulis: Rafiq Anshari











